Hati – hati dalam memberi dan memilih kata pujian!

Mulai saat ini, berhati-hatilah menggunakan pujian. Pujian, seperti pintar dan hebat adalah salah satu pujian yang positif, tetapi bisa berakibat buruk pada anak. Malah lebih sering menyebabkan kemunduran daripada kemajuan. Pujian hendaknya berfokus pada prosesnya, bukan pada hasilnya.

Mengkritik anak akan menghancurkan citra diri anak. Hanya dengan pujian lah Anda dapat membangun citra diri anak yang sehat. Pujian memang menyenangkan hati. Namun, ada beberapa pujian yang malah dapat membahayakan daripada membangun. Salah satunya pujian yang membahayakan adalah mengatakan “anak pintar”. Pujian ini memberikan label bahwa anak Anda tidak dapat gagal. dan itu dapat memberikan rasa kesombongan diri bagi anak. Jika suatu saat karena suatu hal anak Anda mengalami kegagalan, misalnya dalam pelajaran, anak akan merasa “tidak pintar” lagi. Seolah-olah anak telah gagal memenuhi label “anak pintar” yang disandangnya. Anak akan terpuruk. Spiral kepercayaan dirinya akan bergerak kebawah. Jadi, label “anak pintar” ini memberikan beban yang berat bagi seorang anak serta mentalnya untuk bertahan hidup pun menjadi lemah karena telah di manja secara mental). Memuji boleh, tetapi jangan sampai menjadi label hingga anak berpikir “Saya adalah anak pintar, saya tidak boleh gagal” dan memuji yang terlalu berlebihan.

Contoh kata pujian yang salah  (Fokus pada hasil) :

  • Pintar
  • Teladan
  • Berbakat
  • Hebat
  • Teladan
  • Saleh
  • Terpelajar
  • Kebanggaan
  • Panutan
  • Dsb

Contoh kata pujian yang benar (Fokus pada Proses) :

  • Rajin Berlatih
  • Rajin Belajar
  • Rajin Berusaha
  • Pantang menyerah
  • Berani berkorban
  • Berani bersusah payah
  • Dsb

Kesalahan Labeling atau cap ini juga berlaku pada label negatif seperti “anak nakal”, “anak malas”, dan lain sebagainya. Jadi pujilah Prosesnya, bukan pada hasilnya dan Bencilah Tindakannya, bukan kepada orangnya.

Semoga dapat menjadi inspirasi teman-teman,

Stay True,

 

 

 

Teru Egawa