“Semua orang hanya mengikuti aturan, aku mengikuti kata hatiku.”

Bagian 2. Permulaan

Hukum Penawaran dan Permintaan.

Beranjak sekolah dasar saya dikenalkan oleh teman ayah saya yang menjual berbagai macam peralatan elektronik. Saya diberikan satu barang yang sangat unik yaitu senter tanpa baterai, jadi saya harus menekan tombol dibawah senter tersebut untuk mengisi daya. Saking uniknya, tak tanggung-tanggung untuk saya pamerkan ke teman-teman satu sekolah saya keesokan harinya. Tak disangka, banyak dari teman saya yang menginginkan barang tersebut dan saya pun mulai memesannya kepada teman ayah itu tadi.

Ketika saya memesan, saya diajarkan untuk menjual dengan harga yang lebih tinggi kepada teman saya. Awalnya dengan kepolosan saya, saya bertanya kepada ayah saya “Bukan kah ini namanya berbohong? Kalau teman saya bertanya harga beli saya saya harus jawab apa?”. Ayah saya tersenyum dan menjawab “Inilah yang namanya berdagang, papa pun melakukan hal yang sama. Dari harga yang kamu tingkatkan kamu bisa gunakan untuk membeli hal lain, dan jika ada yang menanyakan harga belinya, kamu bilang saja rahasia. Ini bukan berbohong, ini namanya berbisnis.”

Belum sepenuhnya mengerti dari perkataan ayah saya tadi, sayapun mulai menawarakan barang tersebut ke teman-teman dan orang tua teman saya. Ternyata permintaannya luar biasa, menjadikan saya terus menambah koleksi dagangan saya dari kenalan ayah saya tadi. Perbedaannya pun sudah sangat terlihat, ketika anak-anak sd ke sekolah membawa buku pelajaran, saya membawa sekantong plastik besar barang dagangan. Saya juga mulai berjualan nasi goreng bungkus, masker ketika berita sars beredar dan juga gawai seperti earphone dan headphone.