“Dalam perjalanan, saya dihadapkan oleh dua cabang jalan, saya memilih jalan yang jarang dilalui orang, dan itulah yang membuat segala perbedaan.”

Part 1. Penemuan Jati Diri

Darah Setengah Pangeran.

Saya dilahirkan menjadi anak ke-2 dari 3 bersaudara dengan nama Raden Theodorus Ega Wang. Bagi yang penasaran, nama “Raden” ini adalah pemberian istimewa, karena beruntungnya saya adalah salah satu keturunan Raja Sri Sultan Hamengkubuwana dari Keraton Yogyakarta. Serta Wang adalah marga dari ayah saya yang secara harafiah artinya adalah Raja. Ketika saya memasukki bangku taman kanak-kanak, dimana kebanyakan anak-anak lainnya mempelajari pemahaman dasar seperti baca, tulis, dan menghitung, saya tanpa sadar mempelajari sesuatu yang berbeda.

 

Ada sebuah kejadian dimana guru TK kami kesal dan marah karena murid-murid yang sulit diatur dan mengancam akan keluar kelas dan tidak mau lagi mengajar kami. Para muridpun terdiam sejenak namun beberapa detik kemudian kembali ribut, akhirnya bu guru tadi pun meninggalkan ruangan kelas. Para murid menjadi panik dan menangis dengan sangat keras tiada henti, melihat kejadian itu saya pun melakukan aksi berdiri di meja dan berteriak dengan keras “Tenang temen-temen, Ibu guru pasti balik lagi. Liat aja, itu tasnya masih ada di kursi.”, Seluruh teman kelas pun melihat tas tersebut dan percaya dengan apa yang saya ucapkan. Tak disangka, ternyata guru kami memperhatikan apa yang saya lakukan tadi melalui jendela sambil menahan tawa, beliau langsung kembali ke dalam dan menghukum saya dengan alasan “bandel” menurut dia dan saya dibawa untuk berbicara dengan kelapa sekolah bersama orang tua saya. Kepala sekolahpun menceritakan kejadian itu kepada orang tua saya, namun ayah saya selalu berkata “Selalu berani untuk melakukan sesuatu yang kamu yakini benar.” Dari kejadian inilah saya belajar keberanian dan percaya diri. COURAGE.

 

Saat saya berumur tiga tahun, saya selalu dilarang ibu saya untuk memakan permen terlalu banyak. Sehingga bagi saya permen sangatlah berarti dan saya sangat suka mengumpulkan banyak permen hasil dari aktif di kelas. Bagi saya permen lebih berarti dari uang saat itu. Hari demi hari saya kumpulkan dalam satu kantong plastik besar, dan suatu hari ada seorang teman yang meminta beberapa permen kepada saya. Sayapun memberikannya sepulang sekolah, namun setelah itu orang tua dari teman saya menghampiri dan memberikan saya permen lebih banyak. “ini untuk gantiin permen-permen kamu.” katanya sambil tersenyum. Whooa.. Ini adalah momen unik yang pernah saya alami, untuk pertama kalinya saya menerima permen lebih dari memberikan sesuatu, dan saya belajar bahwa dengan memberi kita bisa mendapatkan lebih. SELFLESS.