0

Teru Egawa

STAY TRUE.

Teru Egawa Story

“Dalam perjalanan, terhampar di hadapanku dua cabang jalan. Aku mengambil jalan yang jarang dilalui orang, dan itulah yang membuat segala perbedaan.”

Teru Egawa.

Masa Kanak-Kanak Teru Egawa

Masa Kanak-Kanak.

         Gue dilahirkan menjadi anak ke-2 dari 3 bersaudara pada tanggal 31 januari 1995, dengan nama Raden Theodorus Ega Wang. Bagi yang penasaran, nama “Raden” ini adalah pemberian istimewa, karena luckily gue adalah salah satu keturunan Raja Sri Sultan Hamengkubuwana Keraton Yogyakarta. Gue memulai bisnis pertama kali ketika beranjak umur 3 tahun, dimulai dari berjualan permen, senter tanpa baterai, masker, gadgets, item game online, tcg dan masih banyak lagi.

        Hingga ketika menginjak bangku SMP, gue mengalami bukan hanya kenaikan kelas secara akademik saja, tetapi bisnis gue pun menuju ke level berikutnya. Ya, berbisnis manca negara, ekspor & impor dengan berbekalkan senjata ampuh bernama internet. Perjalanan bisnis masa kanak-kanak, tak sedikit menyimpan memory pahit. Memory itu membekas, mulai dari dicuri, diskriminasi SARA mengalami kecelakaan motor yang menyebabkan 3 bagian tulang kaki patah, hingga ditipu dengan nominal puluhan juta pun sudah gue alami. Tetapi itulah awal dari kecintaan gue terhadap bisnis, seorang anak SMP yang mampu menghasilkan omzet puluhan juta pertamanya dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

Perusahaan Pertama Teru Egawa

Perusahaan Pertama.

         Tepat pada SMP2, gue membentuk perusahaan pertama bernama UNIXON (nama ini didapat dari mimpi yang sudah gue novelkan “The Circle”), pada awalnya UNIXON adalah crew bboy yang akhirnya berubah menjadi sebuah perusahaan. Selain UNIXON, gue juga punya website jual-beli-lelang bernama tepoknyamuk.com. Tepoknyamuk sukses mengantongi omzet hingga puluhan juta rupiah tiap bulannya, dimana gue menjual barang-barang unik yang kebanyakan belum di jual di pasaran Indonesia seperti taring vampir yang bisa naik turun, kartu remi raksasa, ransel transparant, dan gadget-gadget yang sangat murah. Kesuksesan tepoknyamukpun dihalangi oleh perusahaan hosting yang tidak bertanggung jawab, pada tahun ke-2 servernya tiba-tiba down, serta semua domain yang sudah didaftarkan sudah tidak dapat dibeli kembali.

          Akhirnya, gue berinisiatif untuk mempelajari bagaimana cara membuat website sendiri. Sambil belajar, bisnis pun tetap berlanjut di kaskus, blog, sosmed, dan website-website marketplace internasional. Selain itu, gue juga memulai memasuki dunia MLM dan asuransi untuk pertama kalinya. Meskipun banyak persepsi negatif tentang bisnis ini, gue sudah menjalaninya dan belajar banyak hal, mulai dari cara presentasi, berjejaring, bernegosiasi dan telah mendapatkan pola pikir yang baru. Sejak saat itu gue bener-bener jatuh cinta dengan dunia bisnis, terutama pada bidang design dan technology. Gue kecanduan untuk terus belajar dan terus memperdalam pengetahuan bisnis, pengembangan diri, dan software setiap hari. 8 buku setiap bulannya gue lahap habis, tidak mengenal tempat dan waktu, sebelum tidur, waktu makan, dan setiap pelajaran di sekolah (hingga sering dihukum dan disita). Tetapi, perjuangan gue ini butuh pengorbanan, gue mengorbankan banyak hal dari pengorbanan masa muda seperti anak kebanyakan, jam tidur dan pola makan berantakan, hingga pacar gue saat itu. Tetapi hanya tiga kata yang bisa mengalahkan itu semua “I AM HAPPY” gue gak pernah menyesal dan menggangapnya sebagai sebuah beban sedikit pun, because it’s so fun. Inilah jalan yang gue ambil, This is Teru Way.


Perjalanan panjang Teru Egawa

Perjalanan Panjang.

        Secara perlahan pola pikir gue mulai berubah, ternyata bisnis mengubah hidup dan mendewasakan pemikiran gue. Semakin gue mempelajari bisnis, semakin gue merasa tidak tahu apa-apa, yang tadinya menganggap bisnis hanya beli murah jual mahal, saat ini pandangan gue terhadap bisnis sangatlah berbeda. Ketika SMA, gue berhasil menciptakan omzet hingga ratusan juta rupiah, dan semenjak SMA hingga sesampainya masa kuliah, gue sudah berhasil memenangkan lebih dari 10x lomba business. Namun proses pembelajaran gue bukanlah seberapa besar profit atau total kompetisi yang gue menangkan, tetapi jauh diatas itu semua. Gue mempelajari banyak hal tentang kehidupan melalui bisnis, dimana gue sadar bahwa yang gue kejar bukanlah uang, uang hanyalah alat dari sebuah proses dalam sebuah bisnis, Money Is A Tool, Stop Treating It As The Goal . Gue memulai semuanya dari sebuah keputusan, keputusan untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih baik. Sehingga ketika gue melihat kembali sekeliling, dunia di sekitar gue sudah sangatlah berbeda.

          Gue belajar, keberhasilan dapat diraih bukan dari mementingkan kepentingan diri sendiri, namun keberhasilan dapat diraih ketika kita mau melayani sesama dan membuat dunia ini menjadi lebih baik. Jadi, apapun yang gue lakukan saat ini bukan difokuskan hanya untuk diri sendiri namun, untuk membantu dan menolong banyak orang dan berusaha untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik untuk generasi sekarang dan generasi-generasi berikutnya. Because for me, good life is not about having the goods, but it’s about being good and doing good for other people. I am here changing my self to make a difference, and inspire others to do the same.

Teru Egawa’s Dream

Teru’s Dream

          “I envision the world where people can stay true to themself about their life and dreams.”

Always Stay True,
Signed Teru Egawa.